Tautan berhasil disalin ke clipboard!

Rumah Di Ujung Senja

👤 komang trisna juna 🏫 XI-12 🆔 25984

Angin sore menyapu pelan daun-daun kering di halaman sebuah rumah tua yang berdiri di ujung Desa Mandala. Rumah itu tampak sepi, seperti menahan banyak cerita yang telah lama terkunci. Bagi sebagian orang, rumah itu hanyalah bangunan tua yang dibiarkan menua bersama waktu. Namun bagi Raka, rumah itu merupakan bagian dari masa lalu yang belum sanggup ia lepaskan.

Sudah hampir delapan tahun Raka merantau ke kota untuk kuliah dan bekerja. Ia jarang pulang, bukan karena tidak rindu, tetapi karena setiap sudut kampung menyimpan kenangan tentang seseorang: Kirana—sahabat sekaligus cinta pertamanya. Dan kenangan-kenangan itulah yang membuat Raka lebih memilih tinggal di kota, sibuk bekerja agar pikirannya tak sempat kembali pada apa pun yang menyakitinya.

Namun hari itu berbeda. Sebuah pesan singkat dari ayahnya membuatnya harus pulang:

“Ibumu jatuh sakit. Tidak parah. Tapi akan lebih baik kalau kamu pulang.”

Raka tak berpikir panjang. Ia mengambil cuti beberapa hari dan pulang ke Mandala, kampung yang selama bertahun-tahun ia hindari. Senja baru saja turun ketika kakinya menjejak tanah halaman rumah tua keluarganya.

Ibu Raka memang tidak sakit parah. Hanya kecapekan karena terlalu sering beraktivitas di sawah. Itu membuat Raka sedikit lega. Setelah memastikan ibunya beristirahat, Raka keluar rumah, berniat berjalan sebentar untuk menghirup udara desa yang sudah lama tak ia rasakan.

Langkahnya terhenti di depan sebuah bangunan yang tampak asing namun sekaligus familiar. Ia mengernyit pelan.

Rumah itu… sudah tidak terlalu tua. Catnya baru. Halamannya rapi. Pagar bambu diganti pagar kayu yang lebih kokoh. Padahal dulu, rumah itu tampak seperti hendak roboh diterjang angin.

“Raka?”

Sebuah suara lembut membuyarkan lamunannya. Raka menoleh. Matanya membesar sedikit saat melihat sosok yang berdiri beberapa langkah darinya.

Kirana.

Ia tampak lebih dewasa daripada delapan tahun lalu. Rambutnya yang dulu selalu dikuncir kuda kini tergerai natural. Senyumnya masih sama—hangat dan menenangkan.

“Kamu pulang juga akhirnya.” Ucap Kirana.

Raka mengangguk canggung. “Ibu sakit. Jadi… ya, pulang.”

“Aku dengar.” Kirana mengangguk pelan. “Semoga cepat sembuh, ya.”

Udara di antara mereka hening sejenak. Raka menatap rumah di belakang gadis itu. “Rumah ini direnovasi, ya? Bagus sekarang.”

Kirana tersenyum. “Ayahku renovasi sebelum kami pindah ke desa seberang. Rumah ini sudah lama kosong. Tapi aku datang sesekali untuk membersihkan. Rasanya sayang kalau dibiarkan rusak.”

Raka kembali terdiam. Banyak hal yang ingin ia tanyakan. Banyak hal yang ingin ia katakan. Tapi semuanya tertahan di ujung lidah, seperti takut membuka kotak kenangan yang ia tutup rapat.

“Aku senang kamu pulang,” kata Kirana pelan. “Desa ini terasa… berbeda tanpa kamu.”

Raka menelan ludah. “Aku juga… senang bisa melihat kamu lagi.”

Mata Kirana menatapnya lama, seolah berusaha membaca isi hatinya. “Sore masih panjang. Mau jalan ke tepian sungai?”

Raka mengangguk.

Sungai Mandala tak banyak berubah. Airnya masih jernih, mengalir dengan suara menenangkan. Burung-burung sore memecah keheningan dengan kicauan ringan. Di tempat itulah dulu mereka sering menghabiskan waktu bersama—tertawa, bercerita, bertengkar hal-hal kecil, lalu baikan.

“Tempat ini masih sama,” ujar Raka.

“Iya,” jawab Kirana. “Cuma kita yang berubah.”

Kata-kata itu membuat Raka terdiam.

“Kamu masih marah?” tanya Kirana tiba-tiba.

“Marah?” Raka menatapnya. “Enggak… aku cuma—”

“Kamu pergi tanpa sepatah kata pun,” potong Kirana. “Aku bahkan baru tahu kamu ke kota dari ibumu, itu pun beberapa hari setelahnya.”

Raka menghela napas panjang. Ia sudah tahu percakapan semacam ini akan terjadi. “Aku pergi karena… aku ngasih kamu waktu. Kamu dulu bilang bingung sama perasaanmu. Aku pikir kalau aku tetap di sini, itu cuma bikin semuanya makin rumit.”

Kirana menunduk. “Aku tahu. Tapi tetap saja, rasanya… kamu pergi di saat aku butuh kamu tetap ada.”

Raka mengusap tengkuknya yang terasa tegang. “Kirana, waktu itu aku juga bingung. Aku takut hubungan kita berubah, takut kehilangan kamu sebagai teman. Aku pikir pergi itu cara terbaik.”

Kirana menatapnya. “Ternyata bukan.”

Angin sore tiba-tiba terasa lebih dingin.

“Mungkin bukan,” jawab Raka lirih.

“Aku sempat marah, Raka,” kata Kirana. “Tapi lama-lama aku sadar… mungkin memang begitu caranya.

Aku harus belajar berdiri sendiri. Kamu juga harus mencari jalanmu.”

Raka mengangguk pelan. “Dan kamu? Apa kamu sudah… menemukan jalanmu?”

Senja memantulkan cahaya jingga di mata Kirana.

“Aku belum tahu,” jawabnya jujur. “Tapi aku merasa hari ini adalah awal sesuatu.”

Raka menatapnya, tidak yakin harus merasa apa.

“Dan kamu?” tanya Kirana balik. “Kamu akan pulang lagi setelah ibumu sembuh?”

Pertanyaan itu menghantam tepat ke jantung Raka. Ia tidak mempersiapkan jawaban apa pun.

“Aku… belum tahu,” katanya akhirnya. “Kerjaanku di kota lumayan stabil. Aku nggak yakin bisa tinggal di sini lagi.”

Kirana tersenyum, meski ada sedikit getaran di sudut bibirnya. “Aku mengerti.”

Mereka kembali diam. Sungai mengalir, menyembunyikan semua kata yang tak terucapkan.

Malam itu, Raka duduk di beranda rumah, ditemani secangkir teh hangat. Angin malam desa terasa berbeda dari udara kota yang padat. Lebih tenang. Lebih damai. Lebih… menyentuh hatinya.

Ayahnya duduk di kursi sebelah. “Tadi ketemu Kirana?”

Raka mengangguk. “Iya. Dia masih sama.”

Ayahnya tersenyum kecil. “Masih peduli sama kamu, maksudmu?”

Raka memincingkan mata. “Ayah dari tadi lihat ya?”

“Ayah cuma menebak,” jawab ayahnya sambil terkekeh.

Hening sebentar. Lalu ayahnya berkata, “Rumah di ujung senja.”

Raka mengerutkan kening. “Apa itu?”

“Begitu ayah menyebut rumah Kirana dulu. Karena tiap sore cahaya senja jatuh tepat di halamannya. Selalu kelihatan hangat.”

Raka mendengarkan.

“Rumah itu pernah jadi tempatmu menemukan banyak hal,” lanjut ayahnya. “Teman, cerita, bahkan cinta. Tapi sekarang rumah itu bukan lagi milikmu ataupun Kirana. Artinya, kalian juga bebas menentukan jalan masing-masing.”

Raka menatap langit malam.

“Kalau kamu masih punya rasa,” kata ayahnya dalam suara pelan, “datanglah bukan untuk mengulang masa lalu, tapi untuk mulai masa depan.”

Perkataan itu membuat Raka terdiam cukup lama.

Keesokan paginya, Raka memutuskan kembali ke rumah itu. Ia tahu Kirana sering datang untuk membersihkan, jadi kemungkinan besar ia akan berada di sana.

Benar saja. Gadis itu sedang menyapu halaman ketika Raka datang. Ia tampak terkejut.

“Kamu pagi-pagi sudah ke sini?”

“Aku… mau ngomong sesuatu,” kata Raka.

Kirana menatapnya dengan ekspresi sulit diterjemahkan.

“Aku menyesal dulu pergi tanpa bicara sama kamu,” ucap Raka. “Dan aku minta maaf. Tapi aku juga bersyukur kita ketemu kemarin. Karena… itu bikin aku sadar satu hal.”

Kirana diam.

“Aku belum selesai sama perasaan ini,” sambung Raka.

Angin berhenti sesaat, seolah mendengarkan.

Kirana menunduk perlahan. “Raka… aku nggak mau kamu bilang itu kalau cuma karena nostalgia pulang kampung.”

“Bukan,” jawab Raka cepat. “Aku bilang ini karena aku sudah terlalu lama lari.”

Kirana menatapnya, ragu.

“Aku nggak minta kamu langsung jawab apa pun,” lanjut Raka. “Aku cuma… mau kamu tahu.”

Hening.

Lalu Kirana menarik napas panjang. “Aku juga belum selesai, Raka. Tapi aku takut kalau kamu pergi lagi.”

“Aku nggak akan pergi tanpa bilang apa pun lagi,” kata Raka dengan yakin. “Aku janji.”

Kirana tersenyum kecil—senyum yang membuat seluruh beban di dada Raka terasa runtuh.

“Tapi apakah kamu akan tinggal?” tanya Kirana pelan.

Pertanyaan itu menghantamnya sekali lagi, sama seperti di tepian sungai kemarin. Tapi kali ini Raka tidak terdiam terlalu lama.

“Aku nggak tahu kapan,” jawabnya jujur. “Tapi aku tahu satu hal: aku akan selalu kembali.”

Kirana menatapnya lama, lalu mengangguk. “Kalau begitu… aku akan menunggu.”

Hari-hari berikutnya, Raka menghabiskan waktu di desa lebih lama dari rencana awalnya. Ibu sudah sehat, namun ia belum kembali ke kota. Alasannya sederhana saja: ia ingin menikmati waktu yang selama ini ia lewatkan.

Kadang ia membantu ayah di kebun. Kadang ia menemani Kirana membersihkan rumah tua itu. Kadang mereka berjalan ke tepian sungai, tanpa banyak kata, hanya ditemani suara air yang mengalir.

Hari-hari itu tidak spektakuler, tetapi justru di situlah kehangatan yang telah lama hilang kembali muncul.

Suatu sore, Raka dan Kirana duduk di teras rumah tua itu, menatap matahari yang pelan-pelan tenggelam.

“Kamu tahu,” kata Kirana, “dulu aku selalu berharap rumah ini punya banyak kenangan bahagia. Tapi sekarang aku merasa… kenangannya sudah cukup.”

“Karena kita?” tanya Raka.

Kirana tersenyum. “Karena semuanya. Termasuk perpisahan dan pertemuan.”

Raka mengangguk.

“Rumah ini mungkin akan kosong lagi nanti,” lanjut Kirana, “tapi aku yakin suatu saat akan ada yang mengisinya.”

“Siapa?”

Kirana menatapnya lembut. “Mungkin kita. Mungkin bukan. Yang penting, rumah ini akan selalu ada kalau suatu saat kita perlu pulang.”

Raka menatap senja yang hampir hilang di balik perbukitan. Warna jingga menyelimuti halaman rumah dengan kehangatan yang sulit dijelaskan.

“Ternyata benar kata Ayah,” gumamnya. “Rumah di ujung senja.”

Kirana menoleh. “Apa?”

“Rumah ini,” kata Raka sambil tersenyum. “Selalu tampak hangat kalau sore.”

Kirana tertawa kecil. “Kamu memang suka berfilosofi sejak dulu.”

“Mungkin karena tempat ini.”

Mereka saling menatap. Tidak butuh kalimat lain.

Senja perlahan tenggelam, namun sesuatu di antara mereka justru baru saja dimulai—sebuah bab baru, yang tidak lagi bergantung pada masa lalu, tetapi membangun masa depan dengan lebih berani.

Di ujung desa, di rumah yang pernah tua dan sepi, dua hati kembali bertemu. Tidak sebagai anak-anak yang kebingungan, tetapi sebagai dua manusia yang akhirnya berani berkata jujur: bahwa pulang tidak selalu berarti kembali ke tempat, tetapi juga kembali pada seseorang.

Dan untuk Raka, pulangnya kali ini bukan sekadar kunjungan.

Ia menemukan lagi alasan untuk tetap datang, tetap bertahan, dan tetap percaya.

Pada rumah diujung senja

Dan pada Rumah Kirana

Pada akhirnya, Raka menyadari bahwa perjalanan hidup tidak selalu tentang memilih tempat terbaik, tetapi tentang menemukan hati yang membuatnya ingin kembali. Dan bagi Raka, Kirana adalah alasan yang tidak pernah benar-benar hilang.